
Bagi Generasi Z, pekerjaan bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan dalam hidup. Prinsip “work to live, not live to work” menggambarkan perubahan cara pandang Gen Z terhadap dunia kerja. Mereka tetap ingin memiliki karier yang baik dan mencapai kesuksesan, tetapi tidak ingin seluruh kehidupan mereka hanya berpusat pada pekerjaan. Bagi Gen Z, kehidupan yang bermakna juga mencakup keluarga, pertemanan, kesehatan, hobi, dan waktu untuk diri sendiri.
Salah satu hal yang semakin diprioritaskan Gen Z adalah work-life balance. Ketika memilih pekerjaan, mereka tidak hanya mempertimbangkan gaji atau jabatan, tetapi juga lingkungan kerja, fleksibilitas, kesempatan berkembang, serta kesejahteraan diri. Pekerjaan yang memberikan ruang untuk menjalani kehidupan di luar kantor menjadi sesuatu yang semakin dihargai. Bagi mereka, bekerja keras tetap penting, tetapi bekerja terlalu keras hingga mengorbankan kehidupan pribadi bukanlah satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
Pandangan ini juga berkaitan dengan meningkatnya perhatian Gen Z terhadap kesehatan mental di tempat kerja. Tekanan pekerjaan yang berlebihan, jam kerja yang panjang, serta tuntutan untuk selalu produktif dapat membuat seseorang mengalami stres dan burnout. Karena itu, Gen Z cenderung lebih terbuka dalam membicarakan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Misalnya, mereka dapat menghargai adanya waktu istirahat yang cukup dan tidak menganggap bahwa seseorang harus selalu siap menerima pekerjaan di luar jam kerja untuk menunjukkan loyalitas.
Namun, prinsip “work to live” bukan berarti Gen Z tidak mau bekerja keras atau tidak memiliki ambisi. Justru, mereka ingin pekerjaan yang dijalani memiliki tujuan dan sesuai dengan nilai yang mereka miliki. Mereka ingin mendapatkan penghasilan sekaligus merasa bahwa pekerjaan tersebut memberikan pengalaman, kesempatan berkembang, dan kepuasan personal. Dengan kata lain, Gen Z mulai melihat kesuksesan secara lebih luas, bukan hanya berdasarkan seberapa tinggi jabatan atau seberapa besar gaji yang diperoleh.
Perbedaan cara pandang ini terkadang dapat menimbulkan kesalahpahaman antargenerasi. Generasi sebelumnya mungkin lebih terbiasa dengan prinsip bahwa seseorang perlu bekerja keras dan berkorban terlebih dahulu untuk mencapai kesuksesan di masa depan. Sementara itu, Gen Z cenderung mempertanyakan apakah seseorang harus mengorbankan masa kini demi kesuksesan di masa depan. Perbedaan tersebut sebenarnya tidak harus menjadi konflik, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih adaptif terhadap kebutuhan berbagai generasi.
Pada akhirnya, “work to live, not live to work” bukan tentang menghindari pekerjaan, tetapi tentang menemukan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Gen Z ingin memiliki karier yang dapat mendukung kehidupan mereka, bukan kehidupan yang sepenuhnya dikendalikan oleh karier. Bagi mereka, kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian profesional, tetapi juga tentang memiliki waktu, energi, dan kesempatan untuk menikmati kehidupan di luar pekerjaan.
Referensi :
- Rachman, H. A., & Satwika, P. A. (2024). The relationship between workload and work life balance in generation Z employees. Journal of Indonesian Psychological Science, 4(2).
- Rensiana, S., Wulandari, J., & Roni, M. (2024). Analysis of job characteristics, performance, and work life balance in Generation Z workers. Indonesian Journal of Economics and Management, 5(1), 39–49. https://doi.org/10.35313/ijem.v5i1.6406
- Tanoto, S. R., & Go Tami, E. (2024). Understanding Generation Z: Work-Life Balance and Job Embeddedness in Retention Dynamics. Binus Business Review, 15(3), 225–238. https://doi.org/10.21512/bbr.v15i3.11277
